AWAL MULA BERDIRINYA GKP JEMAAT JATIRANGGON
Dalam sejarah Pekabaran Injil di Indonesia, ada beberapa tokoh yang namanya tercatat dalam sejarah Gereja di Indonesia, antara lain:
- Yabes Cerry di Ambon Tahun 1811
- Collen di Ngoro Tahun 1834
- King di Jakarta Tahun 1850
- Emde di Surabaya Tahun 1854
- Nomensen di Tanah Batak Tahun 1861
- Houveker di Halmahera Tahun 1865
Di Jakarta pada umumnya, dan di Kampung Sawah pada khususnya, ada seorang tokoh yang namanya patut ditulis dengan tinta emas, karena hasil karyanya sebagai perintis dalam pertumbuhan dan perkembangan Gereja Kristen Pasundan. Orang itu adalah Mr. F.L. Anthing.
Mr. F.L. Anthing lahir di Belanda pada tahun 1820, sejak kecil sudah dikenal sebagai anak yang rajin sekolah, rajin membantu orang tua, dan setia dalam pengabdiannya kepada Gereja. Pada umur 19 tahun menggabungkan diri dengan Pemuda Gereja, dan dikenal mempunyai bakat Pekabaran Injil. Dalam usia 25 tahun menyelesaikan studinya, mendapat gelar Master Inderechten (Sarjana Hukum). Setelah lama magang beberapa waktu lamanya, diterima sebagai salah satu Pejabat di Kantor Pengadilan Negeri, dan tidak berapa lama kemudian ditugaskan ke Semarang (Jawa Tengah), disini ia menjabat sebagai Hooge Gerrechtscap (Wakil Ketua dan Penasihat dalam bidang Hukum).
Tanggal 5 Agustus 1851 dipindahkan ke Batavia (Jakarta) dan menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri, ada yang menyebut sebagai Rad Van Sambang.
Sebagai orang yang beriman, meskipun telah mempunyai kedudukan yang tinggi, namun tidak pernah melupakan berbakti di gereja, bahkan menggabungkan dengan Batavia Genoschaap van in en Uitwendige Zendling. Dan karena kegiatannya mendapat gelar Gosnersche Manen, atau Zendling Werk Man.
Satu pertanyaan yang timbul dalam hatinya selama ini, mengapa di Batavia belum ada seorang Bumiputera yang masuk Gereja, atau menjadi Kristen. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur Gereja Kristen Jawi sudah berkembang dan tidak sedikit anggota jemaatnya. Orang-orang Bumiputera yang terlihat di Gereja hanya orang-orang Ambon, Menado, yang menjadi militer, atau yang masuk warga negara Belanda.
Beberapa kali ia mencoba mendekati dan berwawancara dengan pribumi Jakarta baik mereka yang bekerja sebagai orang kantoran, maupun sebagai pembantu-pembantu rumah tangga, yang hanya mampu berkomunikasi berkaitan dengan tugas mereka sehari-hari. Memang demikianlah pribumi Jakarta dan sekitarnya, karena pengaruh penjajahan merupakan tembok pemisah hubungan pribadi dengan orang-orang Belanda, walaupun dekat tetapi tidak mampu menembus pandangan hati mereka.
Pada suatu hari Mr F.L. Anthing membaca traktat terbitan negeri Belanda “Mededelingen omtrech de Evangelisatie in het Westelike Gedelite van Java”, antara lain menyebutkan bahwa penginjilan di Nederland Oos Indie, tidak akan berhasil tanpa mengikutsertakan bumiputera.
Beberapa hari kemudian Anthing pergi ke Jawa Tengah untuk berkonsultasi dengan para Zendling, dan beberapa tokoh gereja, dan pada waktu pulang membawa beberapa orang Kristen Jawa, antara lain: Ibrahim Tunggul Wulung, mereka dididik secara khusus untuk Pekabaran Injil.
Tanggal 4 Mei 1869, dengan resmi Anthing membuka sekolah Pekabaran Injil di rumahnya, muridnya berjumlah 17 orang, diantara mereka beberapa orang yang dibawa dari Jawa, di tambah dengan beberapa orang yang menyusulnya dan ditambah beberapa orang bujang-bujang gedongan di sekitarnya, tercatat diantaranya sebagai berikut:
1. Ibrahim Tunggul Wulung dari Jepara asal Kediri
2. Sadrah Abisai dari Mojowarno
3. Tarub dari Jepara
4. Nikodemus dari Jepara
5. Elipas dari Jepara
6. Jaeran dari Leuwidahu
7. Titus (anak Jaeran) dari Leuwidahu
8. Johanes dari Semarang
9. Siun tidak tercatat dari mana
10. Idris idem
11. Salu idem
12. Sairun idem
13. Lukas idem
14. Elisa idem
15. Leonard idem
16. Stepanus idem
17. Asa idem
Beberapa waktu kemudian, murid-murid Anthing bertambah menjadi 50 orang, setiap minggu mereka diberi uang saku sebanyak F.0.50 (lima puluh sen).
Tahun 1879 Anthing meletakkan jabatannya sebagai pegawai negeri, dan menumpang di rumah Tuan Muhlnikel di Jalan Kramat , kemudian hari Tuan Muhlnikel mewariskan seluruh kekayaannya kepada Mr Anthing. Dengan kekayaannya itu Anthing dapat mengembangkan karirnya menjadi pengutusan Pekabaran Injil.
Tahun 1870 Anthing kehabisan biaya, ia cuti ke Negeri Belanda, untuk berkonsultasi dengan para Zendling, dan mencari tambahan biaya, namun usahanya tidak berhasil.
Pada suatu hari Anthing berkenalan dengan seorang janda kaya dari sekte Apostolos (Kerasulan), janda ini bersedia membantu, kalau Anthing mau masuk menjadi warga Sektenya. Bagi Anthing sekte bukanlah masalah penting, yang utama Injil dapat dikabarkan, khususnya untuk orang-orang Bumi Putera di Batavia dan sekitarnya. Kemudian bukan saja bantuan diberikan, tetapi janda tadi bersedia menjadi istrinya. Anthing diberi gelar Apostel van Java (Rasul dari Jawa), lalu kembali ke Batavia, mengembangkan Pekabaran Injil.
Murid-murid Anthing yang telah dianggap mampu diminta praktek ke desa-desa asal mereka, terutama kepada kaum keluarganya, sedangkan murid-murid yang dari Jawa bertindak sebagai penasihat dan penanggung jawab.
Semula mereka belum berani mengabarkan Injil, melainkan Ilmu Sejati, yang mempunyai kekuatan dan kuasa untuk mengalahkan roh-roh jahat. Mereka pergi ke kampung-kampung yang jauh, kalau perlu bermalam disana, bila ada kesempatan yang baik, mereka mulai berbicara tentang Ilmu yang sedang dikabarkannya. Setelah mereka percaya, baru diceritakan bahwa Ilmu yang mereka ajarkan bersumber dari Yesus Kristus.
Pekerjaan Anthing dan murid-muridnya dinilai berhasil, karena dalam kurun waktu 3 tahun telah berdiri sembilan Jemaat dengan anggota berjumlah 750 orang yang telah dibaptisnya.
Kesembilan Jemaat tersebut adalah:
1. Pondok Melati
2. Gunung Putri
3. Cigelam
4. Cakung
5. Jengkol
6. Tangerang
7. Rangkasbitung
8. Cikuya
9. Pasirkaliki (Kerawang)
Tanggal 22 Juli 1883, Mr Anthing meninggal dunia karena kecelakaan Trem. Setelah Anthing meninggal, murid-muridnya kembali ke daerah asal mereka, sedangkan kesembilan Jemaat yang tersebar di sekitar Jakarta, Rangkasbitung, sampai ke Pasirkaliki (Kerawang) itu hidup sendiri-sendiri, tanpa ada komunikasi antara satu dengan lainnya, maka sebagian ada yang berkembang, tetapi ada juga yang tidak, bahkan ada pula yang mati tanpa bekas. Antara lain Jemaat Jengkol dan Cikuya.
INJIL MASUK DAN BERKEMBANG DI KAMPUNG SAWAH
Dari sejarah disebutkan bahwa wilayah Bekasi dan sekitarnya telah diberikan (disewakan) kepada Tuan Tanah. Tuan Tanah ini kebanyakan dari orang-orang Cina dan mempunyai hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat, bila dibandingkan dengan orang-orang Belanda, terutama dengan para Jawara di wilayahnya.
Di Kampung Sawah, Bapak Paul Rikin adalah salah seorang yang namanya terkenal sampai Lemah Abang (Cikarang Timur), ditakuti dan disegani bukan hanya ilmunya yang tinggi, namun sikapnya yang arif dan bijaksana dalam pergaulan. Oleh Tuan Tanah Pondok Gede dia diangkat sebagai Juragan (setingkat dengan Camat) yang membawahi beberapa Kemandoran (setingkat dengan Lurah).
Keluarga Paul Rikin telah menerima berita Injil dari murid-murid Anthing dan tekun mempelajari apa yang telah diajarkan, namun ketika ingin mengenal Ilmu Kristen lebih dalam Anthing meninggal dunia, dan murid-murid Anthing telah pulang ke tempat asal mereka masing-masing. Sebagai seorang yang mempunyai jabatan cukup tinggi waktu itu, ex Jawara yang namanya cukup tenar dan terkenal, ditambah lagi keadaan sosial ekonominya termasuk orang yang mampu (kaya), tidak mungkin untuk belajar Ilmu Kristen kepada orang-orang di Pondok Melati yang dalam hal ini pengetahuannya setara atau mungkin juga dibawahnya.
Namun diantara rekan-rekan sejawatnya terdapat beberapa orang Kristen dari Tugu, Depok dan dari murid-murid Pdt. King di Mester Kornelius (Jatinegara). Karenanya diperkirakan lebih condong memilih menggabungkan diri ke Jatinegara, yang letaknya lebih dekat dan mudah dijangkau dari Kampung Sawah, kemudian belajar dan dibaptis disana. Kesemuanya ini merupakan perkiraan, karena keluarga yang ada sekarang ini, maupun di gereja tidak mengetahuinya. Perkiraan ini diperkuat karena ketika dikemudian hari jemaat Kampung Sawah mendirikan Gereja yang pertama, mendapat hadiah Mimbar dari Mr King, Pendeta Rehoboth – Jatinegara.
Pertumbuhan dan perkembangan Injil di Kampung Sawah lebih subur dibanding dengan Pondok Melati, karena selain hal-hal yang disebutkan diatas, Bapak Paul Rikin mempunyai sifat yang terbuka pergaulannya dengan rekan-rekan sejawatnya seperti dengan saudaranya sendiri, dengan masyarakat seperti orang tua dan anak-anak, suka menolong dan menampung orang-orang yang perlu ditolongnya, antara lain keluarga Peking dari Cileungsi, dan Cengkir dari Cilangkap.
Dalam buku sejarah Gereja karangan Muller Kreuger halaman 20 disebutkan : “Cuis Regie Sius Religius.” Yang artinya “Siapa punya negeri (kekuasaan), dialah yang punya Agama.”
Keluarga Rikin memegang Pemerintahan, keluarganya setia dalam penghayatan Iman, maka perkembangan Jemaat tumbuh subur dan berkembang.
Dibawah pimpinan Keluarga Rikin keadaan Kampung Sawah lebih tertib dan aman bila dibandingkan dengan kampung-kampung di sekitarnya, sehingga Pemerintah Belanda berkenan menganugerahkan Bintang Jasa dalam bidang pemerintahan kepada Bapak Laban Rikin dan Lukas Rikin (anak Paul Rikin) yang mengikuti jejak orang tuanya. Bapak Laban Rikin sebagai pembela rakyat dalam bidang hukum, yang waktu itu disebut sebagai Prokol Bambu, dan Bapak Lukas Rikin berkecimpung dalam bidang pendidikan.
Tanggal 21 Maret 1886 Zendling C. Albers pertama kali berkunjung ke Pondok Melati, karena mendengar Jemaat Anthing berkembang tetapi hidup sendiri, seolah-olah tidak ada pengasuhnya. Kedatangannya ini bukan sekedar untuk meninjau, tetapi mengajak bersatu dibawah naungan Nederlandsche Zendlings Vereeniging. Saat itu di Pondok Melati ada 30 orang Kristen, diteruskan ke Kampung Sawah, disana sudah ada seratus empat orang yang dipimpin oleh Bapak Lukas Rikin.
Karena kurangnya pengertian, maksud yang baik itu tidak selamanya diterima baik, terlebih dalam kelompok yang selama ini turut nmemimpin dan melayani jemaat, maka timbulah perbedaan pendapat yang memuncak sehingga menimbulkan perpisahan, 51 orang beralih ke tempat kebaktian sebelah timur, di rumah Bapak Andri, dipimpin oleh Bapak Mangun Ilang dan Yosef Baiin, menamakan diri kelompok jemaat kampung sawah Timur, sedangkan di Kampung Sawah Barat dipimpin oleh Bapak Lukas Rikin.
Meskipun Pdt. Albers dan pemimpin lainnya di Kampung Sawah Barat telah berusaha sedemikian rupa namun belum berakhir. Kalau tahun 1896 terjadi perpisahan antara Kampung Sawah Barat dan Kampung Sawah Timur, namun keduanya masih dalam satu aliran. Tetapi di Tahun 1897 ini Bapak Nathanael diikuti 42 orang memisahkan diri dan memanggil Pastor, dan sejak hari itu berdirilah Gereja Katholik Kampung Sawah.
Tahun 1898 (1 tahun kemudian) Bapak Nathanael menyatakan diri keluar dari Katholik, lalu masuk Methodis.
Perpisahan antara Kampung Sawah Barat dan Kampung Sawah Timur tidak berlangsung lama, karena masing-masing pihak menyadari apa arti hidup bergereja dan berjemaat, merekapun kembali bersatu.
Tahun 1902 mereka sepakat mendirikan bangunan gereja, tepatnya pada tanggal 30-11-1902, di kebun Bapak Lukas Rikin, disebut juga Kebun Kelapa. Luasnya 13,5 x 6,5 m2, setiap hari Minggu dipakai kebaktian Jemaat dan pada hari kerja dipergunakan untuk sekolah. Muridnya yang pertama ada 20 anak.
Dengan berdirinya Gereja ini bukan hanya jemaat di Kampung Sawah Barat dan Timur yang bersatu, tetapi jemaat di Pondok Melati pun turut menyatukan diri berjemaat disini.
Baik Gereja maupun sekolah dipimpin oleh Pdt. Albers dan kemudian diteruskan oleh Pdt. Bliek. Bapak Lukas Rikin menjabat sebagai Kepala Sekolah dan membantu pekerjaan jemaat.
Sembilan tahun kemudian tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1911, Gereja di Kebun Kelapa yang dirasa sudah sempit untuk kebaktian dan disana sini sudah mulai rusak dan lapuk dipindahkan ke arah timur di tempat sekarang ini Gereja berdiri. Ukuran berapa tidak tercatat, dibangun dengan bentuk rumah biasa, berdinding bambu dan beratap genting. Namun beberapa tahun kemudian dirasakan mulai sempit dan tidak mampu menampung warga jemaat yang berbakti, sehingga ditambah emperan di kanan dan kirinya, sehingga berbentuk huruf “T”.
Untuk sekolah dibangun tersendiri disekitar gereja. Muridnya bukan hanya anak-anak Kristen dari Kampung Sawah, melainkan dari berbagai Agama dan anak-anak Cina dari Pondok Gede dan Kranggan, bahkan pada suatu ketika mampu mengadakan Shakel School (Sekolah Sekakel) yang mengajar bahasa Belanda.
Berkat Tuhan dirasakan dalam kehidupan jemaat, sehingga mampu menyisihkan sebagian rejekinya yang dihimpun, kemudian membeli kebun di Kebantenan dalam rangka persiapan Pekabaran Injil secara bertahap, yang dimulai dengan membuka sekolah di Kebantenan dan di Pondok Benda, yang dipimpin oleh Bapak Timoteus dan Bapak Balok Arpaksad.
Setiap perjuangan tentu akan bertemu dengan kendala dan tantangan, namun yang amat menyedihkan karena tantangan ini datang dan timbul dari tengah-tengah Jemaat, sering terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat, sehingga beberapa keluarga Jemaat memisahkan diri dan membangun Gereja yang baru di kebun Bapak Kornelis Sabajan di Kampung Pabuaran, menamakan diri Jemaat Thalitakumi. Hal ini terjadi sekitar tahun 1931.
Untuk sementara Jemaat Thalitakumi belum mempunyai pimpinan yang tetap, kebaktian dilayani oleh Bapak Aleksander Lampung, Bapak Karta Noron, Bapak Adam Yaman dan Mas Kuat dari Gereja Jawa di Jakarta. Sedangkan sebagai Majelis Gerejanya terdiri dari Bapak Lukas Noron, Bapak Kornelis Sabajan dan Bapak Ayub Lampung. Secara organisasi jemaat Thalitakumi tidak diakui sebagai Jemaat yang sah, karena ketika Rad Ageng mengadakan sidang di Tanjung Barat, utusan dari Thalitakumi tidak diperkenankan hadir. Namun karena sering dikunjungi oleh Dr. V. Doorn yang selalu memberikan respon dan sekali-kali pelayanan kebaktian, Jemaat Thalitakumi mampu mengembangkan sayap sampai di Cikeas dan membeli tanah untuk kuburan di Bitung yang ada sampai sekarang. (Bapak Lukas Noron melimpahkan pengelolaan kuburan Bitung kepada GKP Jatiranggon kurang lebih sekitar tahun 1990).
Tahun 1934 Jemaat Imanuel Kampung Sawah memanggil Bapak Mika Rikin yang pada waktu itu sedang bekerja di RS Cikini, ditahbiskan sebagai Pendeta Kampung Sawah yang pertama. Pdt Mika Rikin lulusan Kweek School dari Nedherland Zendling Vereniging di Bandung.
JAMAN PEMERINTAHAN JEPANG
Tahun 1942 Tentara Jepang masuk dan menguasai Indonesia, seluruh wilayah menjadi kacau, orang-orang Belanda ditangkap dan diinternir (ditawan), dan tidak sedikit yang dibunuh. Pemerintahan kosong karen a Jepang belum sempat mengatur, banyak terjadi perusakan dan penggarongan, sehingga Gereja dan sekolah ditutup untuk sementara. Namun setelah keadaan aman dan pemerintahan diatur menurut sistem Jepang, maka Gereja dan Sekolah dibuka kembali dan berjalan sebagaimana biasanya.
Jepang yang pada waktu datang mengaku sebagai saudara tua, nyatanya bukan membina atau memimpin namun yang jelas menyengsarakan rakyat. Kebutuhan pokok lenyap dari pasaran, orang-orang harus kerja paksa menjadi Romusha dikirim ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri, rakyat menderita kelaparan, penyakit busung lapar ada dimana-mana.
Dalam keadaan demikian, banyak Pendeta disamping melayani Jemaat juga sambil berbisnis menurut cara dan kemampuannya masing-masing, suasana demikian berlangsung sampai awal Revolusi.
AWAL REVOLUSI
Di awal Revolusi sampai beberapa bulan berikutnya, kekacauan timbul kembali bahkan lebih dahsyat dari permulaan jaman Jepang, karena kekacauan di jaman permulaan pemerintahan Jepang banyak orang dirugikan, di awal Revolusi banyak jiwa yang terancam, terutama di kampung-kampung orang Kristen di sekitar Jakarta. Demikian pula terjadi di Kampung Sawah, Pdt. Mika Rikin dan Madi Lampung ditangkap dan ditawan di Bekasi, yang menurut informasi akan dibunuh. Penggarongan terjadi bukan hanya di malam hari, bahkan di siang hari pun terjadi, dengan alasan mencari senjata. Gereja Thalitakumi dibongkar, Gereja Roma Katholik dibakar meski tidak hangus, Gereja Imanuel diacak-acak sehingga banyak dokumen Gereja hilang.
Dengan adanya kekacauan itu hampir seluruh warga Jemaat mengungsi menyelematkan diri ke tempat-tempat yang dianggap aman, dan banyak yang mengungsi ke Jakarta di tampung oleh Jemaat Rehoboth – Jatinegara, di Kramat 63, 65, namun tidak sedikit yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan dan gugur sebagai Pahlawan Bangsa.
Pdt. Mika Rikin dan Madi Lampung dibebaskan oleh Tentara NIKA dan Batalyon X dekat RS Gatot Subroto, Jakarta. Setelah keadaan agak aman, Pdt Mika Rikin melayani kebaktian orang-orang pengungsi yang ditampung di Kramat 65, dan kemudian menjadi GKP 65.
Pendeta Madi Lampung setelah dibebaskan dari Batalyon X, mendirikan Jemaat Bethlehem yang anggotanya terdiri dari keluarganya dan beberapa keluarga lainnya yang berasal dari Jemaat Thalitakumi.
Anggota Jemaat yang tidak mengungsi, setelah keadaan cukup aman, mulai menyelenggarakan kebaktian lagi di Gereja Immanuel, mereka bersatu baik yang dari Jemaat Immanuel maupun dari Jemaat Thalitakumi dan kebaktian dilayani oleh Bapak Maat Noron, Yulianus Senen, Alipas Niman, secara bergantian.
Beberapa bulan kemudian setelah semakin aman, banyak anggota jemaat yang mengungsi itu berangsur-angsur kembali ke Kampung Sawah dan dibentuklah Majelis Gereja yang baru terdiri dari: Bapak Maat Noron, Alipas Niman, Ruben Sanglir, Musa Dani, Ibu Mami Niman, Ibu Sarcih Peking, dan beberapa orang lagi. Penanggung jawab dipercayakan kepada Bapak Mika Rikin yang sesekali pulang ke Kampung Sawah.
Sekolah pun dibuka kembali, namun karena jemaat belum mampu maka diserahkan kepada pemerintah dan sekolah menjadi Sekolah Negeri. Beberapa orang guru dimutasi ke desa-desa lain dan ke wilayah Jakarta, antara lain Bapak Kleopas Dani dimutasi ke Bambu Apus, maka terbukalah untuk generasi baru yang mendapat kesempatan bekerja.
Beberapa waktu kemudian Pdt. Mika Rikin pulang ke Kampung Sawah, pimpinan Jemaat Kramat 65 digantikan oleh Pdt. Jamin Danci.
RENOVASI BANGUNAN GEREJA
Gereja yang dibangun tahun 1911 keadaannya sudah semakin parah, perlu segera diperbaharui atau diganti dengan bangunan yang baru.
Tanggal 3 Mei 1959 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja yang diketuai oleh Bapak Johan Rikin. Dibantu oleh Sdr. Supardi Sainan, Darwin Noron, Boas Mondong, Musa Dani dll. Bapak Saman Niman dipercaya sebagai bendahara dan Bapak Silah Saiman dibantu oleh Engko Ay (tukang kayu) dan Bapak Ayub Lampung sebagai pengawas harian.
Seluruh warga jemaat menyambut gembira atas terbentuknya panitia pembangunan gereja ini, semua rela membantu, baik materi maupun tenaga dalam pelaksanaannya, bahan-bahan bangunan kayu dan bambu diperoleh dari sumbangan jemaat yang dikerjakan bersama.
Panitia merencanakan luas bangunan 12 x 24 m bujur sangkar, kerangka dari kayu nangka tua dan atap genteng, dinding tembok, diperkirakan akan menghabiskan biaya sebesar Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah), yang diperoleh dari panitia , anggotaa jemaat dan orang-orang asal jemaat Kampung Sawah yang bekerja atau bermukim di luar daerah, dan kemudian baru mencari donatur dari luar anggota jemaat.
Karena harga bahan bangunan (material) terus meningkat, sehingga pemasukan dan pengeluaran biaya menjadi tidak seimbang, sedangkan tukang-tukang bangunan mengeluh karena perangsang yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka masing-masing, walaupun dalam batas yang sangat minim, maka panitia minta kepada anggota jemaat agar:
1. Pemberian perangsang untuk tukang-tukang agar ditingkatkan.
2. Konsumsi tukang-tukang dan pembantunya menjadi tanggung jawab anggota jemaat secara bergantian menurut jadwal, bagi mereka yang kurang mampu ditanggung oleh dua atau tiga keluarga setiap harinya.
3. Pembantu tukang tidak diberi perangsang, dilakukan oleh anggota kerja bakti secara bergiliran.
4. Ibu-ibu yang tidak mempunyai anak kecil diminta kerja bakti untuk menumbuk batu bata untuk mengganti kebutuhan semen.
5. Janda-janda yang jompo diminta membuat kerajinan tangan sesuai dengan kemampuannya, membuat sapu, gayung, kipas dsb. Dan hasilnya diserahkan kepada panitia untuk dijual.
Permintaan dari panitia ini pun disambut dengan gembira bahkan yang kerja bakti dan pemberian konsumsi melebihi dari target yang dimintanya.
Yang lebih indah lagi karena umat muslimin tidak sedikit memberi bantuan dalam pembangunan ini, Lurah Awi dari kampung Pedurenan mengerahkan warganya untuk menggali pasir dan disumbangkan kepada Panitia dan tidak mau dibayar. Usaha untuk mencari dana dari Donatur pun berjalan lancar. Kerangka yang telah dirakit tidak didirikan sekaligus, melainkan bagian demi bagian yang telah jadi didirikan pada tempat yang telah ditentukan.
Sebuah mujizat yang dirasa oleh semua yang bekerja, karena kerangka yang beratnya beberapa ton dan hanya dikerek dengan tambang yang amat sederhana itu didahului dengan doa, tidak putus asa atau terjadi musibah yang tidak diinginkan.
Tibalah sekarang dengan pembongkaran bangunan lama yang masih berdiri dibawah kerangka-kerangka tadi. Seluruh yang hadir berkumpul dan berdoa yang dipimpin oleh Bapak Ayub Lampung, setelah kata amin Bapak Ayub berkata: “Siapa yang berani membongkar bangunan ini harus bertanggung jawab dan berani membangun yang baru.”
Setelah bangunan yang lama dibongkar, Kebaktian diselenggarakan dibawah kerangka yang telah dirakit dan dibentuk beratapkan langit terbuka dan disana –sini berserakan puing-puing, namun hikmat dan berkat Tuhan sangat dirasakan, sehingga tidak sedikit Jemaat yang mencurahkan air mata kebahagiaan karena penyertaan Tuhan.
Pada pertengahan tahun 1961 bangunan dianggap selesai walaupun masih dibawah target yang semula direncanakan 12 x 24 m2 itu hanya mampu menjadi 12 x 21 m2 saja, seluruhnya menghabiskan biaya Rp. 362.170,92,- (Tiga Ratus Enam Puluh Dua Ribu Seratus tujuh Puluh. Sembilan Lima) selain bahan-bahan bangunan dan konsumsi yang diberikan oleh anggota Jemaat dengan sukacita.
Penggunaannya dilakukan dalam kebaktian Jemaat yang dipimpin oleh Bapak BP Sino de GKP. Di penghujung tahun 1965 Bapak Maat Noron menyatakan diri keluar dari Jemaat GKP Kampung Sawah, karena telah terpilih sebagai Guru Injil dan pembantu Pendeta oleh anggota Jemaat, namun peneguhannya selalu ditunda-tunda, kemudian beliau masuk Jemaat Pantekosta Pusat Surabaya di Jatiranggon (Pabuaran).
PEMANGGILAN GURU JEMAAT D. NGAPON
Karena kesehatan Pdt. Mika Rikin dan kurang mampu melayani Jemaat, maka pada tanggal 17 Desember 1971 Majelis Gereja menghubungi saudara D. Ngapon yang waktu itu sebagai Guru Jemaat yang melayani GKP Cimahi diminta pulang ke Kampung Sawah.
Konsultasi ini dilakukan beberapa kali dan mendapat persetujuan BP Sinode, maka pada tanggal 1 Februari 1972 Saudara D.Ngapon pulang ke Kampung Sawah.
Setelah berorientasi beberapa bulan, lalu diresmikan sebagai Guru Injil di Jemaat GKP Kampung Sawah, yang peneguhannya bersamaan dengan peng-emiritiusan Pdt. Mika Rikin. Setelah dua tahun sebagai Vikaris maka pada tanggal 29 April 1974 D. Ngapon ditahbiskan menjadi Pendeta Jemaat.
MERINTIS POS KEBAKTIAN DI JATIRANGGON
Sejak tahun 1974, Wilayah Pelayanan jemaat semakin meluas sampai ke Kranggan ± 5 km kearah selatan, dan ke Pondok Gede (± 4 km ke arah utara), terutama untuk anak-anak sekolah minggu dan mereka yang sudah lanjut usia, mengingat pula bahwa anak-anak seusia mereka tidak mungkin pergi sendiri ke Gereja dan bila diantar oleh orang tuanya berarti tidak ada yang tinggal di rumah, sangat memungkinkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (kebakaran atau pencurian), maka Pelayanan Kebaktian Sekolah Minggu dikembangkan ke wilayah-wilayah yang dapat dijangkau oleh mereka, terutama di kedua daerah tersebut diatas. Wilayah utara di Bojong Nangka dan wilayah selatan di Kampung Bulak Pabuaran Jatiranggon, untuk sementara menggunakan rumah-rumah anggota Jemaat yang letaknya lebih strategis. Khusus di wilayah selatan bertempat di rumah saudara Lazarus Sabajan, di rumah Ibu Sarcih Peking, atau di rumah Bapak Asmin Peking, kemudian dibangun Pos Sekolah Minggu di kebun Jemaat (lokasi Gereja Jatiranggon sekarang) dengan ukuran 4 x 6 m2.
Mengingat : 1. Amanat Tuhan Yesus dalam Matius 28: 18-20
2. Misi GKP dalam era Pembangunan
Memperhatikan : Pengembangan Ibu Kota dengan urbanisasi masyarakatnya.
Memperhatikan : dsb.
Memutuskan : Menetapkan:
Sesuai Keputusan Rapat Majelis Gereja untuk segera membentuk Panitia Pembangunan Pos Kebaktian Jemaat GKP di Jatiranggon.
Dengan keputusan tersebut diatas maka Majelis Gereja membentuk Panitia Pembangunan yang susunannya sebagai berikut:
- Bapak Musa Dani sebagai Ketua I
- Bapak Liganda Sabajan sebagai Ketua II
- Bapak Budiman Dani sebagai Sekretaris I
- Bapak Subarsa Niman sebagai Sekretaris II
- Bapak Rajad Baiin sebagai Bendahara I
- Bapak Aman Empi sebagai Bendahara II
- Bapak Yotam Baiin sebagai Anggota
- Bapak Miharja Rikin sebagai Anggota
- Bapak Yahya Noron sebagai Anggota
- Pdt D. Ngapon sebagai Penasihat
- Bapak Kepala Desa Jatiranggon sebagai Pelindung
Untuk memperkuat dan memperlancar tugas Panitia, diberi mandat dari Majelis Gereja No. 055/GKP-Ks/80, tertanggal 9 Juni 1980, diperkuat dengan surat dari Kepala Desa Jatiranggon No. 002/4/DS tertanggal 28 Januari 1981, diketahui dan disyahkan oleh BP Sinode GKP No. 326/BPSGKP, tertanggal 24 Juni 1981. Dengan surat-surat tersebut diatas Panitia mulai berusaha melakukan tugasnya, mencari dana dan IMB kepada Badan-Badan terkait dan Pemerintah Daerah Tingkat II dari Camat sampai Bupati Bekasi.
Namun begitu Panitia memulai tugasnya, timbul tantangan dari dua arah:
1. Dari dalam anggota Jemaat timbul suatu isu bahwa Panitia hanya sebagai wayang yang didalangi oleh Pdt. D. Ngapon untuk memecah belah Jemaat, dan secara terselubung akan membangun kembali Jemaat Thalitakumi yang sudah lama mati.
2. Dari Pemerintah, Panitia dipingpong keatas dan kebawah dengan berbagai dalih. Sehingga usaha Panitia tersendat-sendat, dan hampir membubarkan diri.
Sebagai penanggung jawab pertumbuhan dan perkembangan Jemaat dan sebagai Penasihat Panitia, Pdt. D. Ngapon mengajak Panitia berkumpul, dan menyerahkan kepada Tuhan, karena kalau Tuhan berkenan tentu tidak ada masalah yang mustahil.
Beberapa waktu kemudian Tuhan memberi jawaban melalui seorang usahawan yang beriman dan berjiwa sosial dari Pasar Minggu, berkenan memberi bangunan rumah (bangunan Gereja yang sekarang ini) dengan catatan harus dibongkar dan diangkat sendiri dari Pasar Minggu ke Jatiranggon. Orang tersebut adalah Bapak Malauw asal Tapanuli.
Dengan demikian Panitia segera mempersiapkan anggota Jemaat kerja bakti membongkar dan mengangkut bangunan tersebut dari Pasar Minggu ke Jatiranggon.
Ketika Panitia sedang merakit dan akan mendirikan bangunan tersebut tantangan yang ketiga muncul, 137 orang mengadakan unjuk rasa di Kelurahan, mereka tidak menyetujui kalau umat Kristen akan mendirikan Gereja di wilayah Pabuaran. Namun setelah diberikan penjelasan dengan penuh kebijaksanaan oleh Wakil Lurah (Bapak Encep) sekarang Kepala Desa Jatimurni, mereka membubarkan diri dalam suasana tenang. Kemudian Bapak Encep memberi semangat kepada Panitia dan mengatakan ...”Ada IMB atau tidak, kalau ada gangguan beritahu saya, dan saya yang bertanggung jawab.” Dengan demikian Panitia meneruskan pekerjaan dengan tenang dan bersyukur kepada Tuhan.
Meskipun bangunan dalam keadaan belum sempurna, namun setiap hari Minggu telah dipergunakan pelayanan kebaktian sekolah minggu, terutama untuk anak-anak warga Jemaat di Pabuaran dan sekelilingnya.
Menjelang Perayaan Paskah tahun 1982, sekelompok anggota Angkatan Laut di Cilangkap meyelenggarakan Kerja Bhakti bersama-sama Jemaat, bahkan memberi peralatan berupa Pacul, Parang untuk memelihara kebersihan Gereja dan sekitarnya.
Beberapa minggu kemudian datang pula rombongan Pemuda dari GK Kebayoran Baru memberikan Ubin, Semen, Cat dan Pompa Air, sekaligus memasangnya dikerjakan sampai beberapa hari.
Dan sejak itu bantuan dari perorangan dan dari gereja-gereja lain berdatangan, sehingga bangunan ini layak untuk menyelenggarakan kebaktian Jemaat, yang beberapa bulan sebelumnya telah dipergunakan untuk Kebaktian Tengah Pekan.
Sejak pertengahan tahun 1983 Pos Kebaktian Jatiranggon telah dipergunakan Kebaktian Jemaat setiap hari Minggu, namun waktunya sore hari, dan pertengahan tahun 1984 kebaktian dialihkan waktunya menjadi pagi hari jam 09.00, pembinaan anggota jemaat dan majelis Gereja dan diselingi Penyelidikan Alkitab (PA).
Tanggal 30 Mei 1985Pos Kebaktian Jemaat di Jatiranggon diresmikan sebagai Pos kebaktian Jemaat GKP Kampung Sawah.
Tahun 1988 – 1989 Paulus Wiyono sebagai Vikaris
Tahun 1990 Paulus Wiyono ditahbiskan sebagai Pendeta Jemaat yang pertama, bersamaan waktunya dengan diresmikannya Pos Kebaktian Jatiranggon sebagai Jemaat yang mandiri.
Tahun 1996 Pdt. Paulus Wiyono STh, dimutasi ke GKP Rehoboth Jatinegara.
Tahun 1980, karena sesuatu dan lain hal, Pdt. D. Ngapon mengundurkan diri sebagai Pendeta Jemaat.
Tanggal 18 Mei 1983 Jemaat GKP Kampung Sawah memanggil Pdt. Derajat Majan yang baru menyelesaikan pelayanannya di Jemaat Kramat 65, menjadi Pendeta di Jemaat GKP Kampung Sawah.
Sumber: Diambil dari Buku “SEJARAH GEREJA KRISTEN PASUNDAN JEMAAT KP SAWAH”
Disusun oleh D. Ngapon - 1996
Tidak ada komentar:
Posting Komentar