Kamis, 05 November 2009

Saat Teduh Jum’at, 6 November 2009

Pembacaan Alkitab: Galatia 2:19-21



19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;

20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

21 Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.



“PEMAIN ANDAL”



Galatia 2:20

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.





RENUNGAN



Aku memperhatikan dengan seksama adik perempuanku bermain gitar. Setelah berkali-kali berusaha menjelaskan dan menunjukkan kepadanya teknik memainkan lagu itu, aku sadar aku perlu melakukan pendekatan lain. Lalu, aku berdiri di belakangnya, meletakkan tanganku di atas tangannya. “Biar aku yang mengontrol petikan gitarmu, nanti kamu akan bisa merasakan bagaimana seharusnya lagu ini dimainkan.”

Adikku setuju, tetapi saat aku mulai menggerakkan tangannya, aku dapat merasakan perlawanannya. “Biarkan aku yang membimbing tanganmu,” kataku lagi. Namun, lagi-lagi aku dapat merasakan ia berusaha memainkan gitarnya sendirian.

Lalu, tatkala merenungkan hal ini, aku teringat akan Galatia 2:20 [namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.]. Adikku tak dapat membiarkanku menuntun tangannya. Aku bertanya kepada diriku, berapa sering aku setuju, mengizinkan Roh Kudus untuk memimpin hidupku, namun kemudian aku berusaha bertindak benar dengan mengandalkan kekuatan dan pengertianku sendiri. Kini aku sadar bahwa hanya dengan mengizinkan Roh Kudus bekerja melaluiku baru aku bisa sungguh-sungguh mengikuti Kristus.



Doa:

Bapa terkasih, ampunilah kami saat mengandalkan kekuatan kami sendiri. Ajar kami untuk hanya bersandar pada Roh-Mu, mempercayai-Mu untuk mengerjakan segala yang baik melalui kami. Amin.



Pokok pikiran:

Hanya dengan membiarkan Allah membimbing kita, kita dapat menjadi pemain yang piawai.



Doa syafaat:

Para musikus.



Dikutip dari:

Saat Teduh BPK Gunung Mulia – Jakarta – Indonesia

© Copyright 2009 by The Upper Room

Jum’at, 6 November 2009

Anna C. Gheen (Idaho, Amerika Serikat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar